Headlines
Published On:Kamis, 22 November 2012
Posted by Teluk Bone

Monolog Versi Teluk Bone

DUA ORANG ANAK YANG MENGUNJUNGI KUBURAN AYAHNYA

          Ada  dua  orang  anak yang  terlantar  ditinggal  pergi  oleh  ayahnya yang telah meninggal. Pada suatu hari kedua anak itu  merasa sangat lapar, sementara persediaan makanannya sudah habis.Pergilah si adik ke kuburan ayahnya yang sudah meninggal.

Ketika  hari  telah  malam,  terdengarlah   suara  ayahnya  dari  dalam  kubur.  ”Wahai anakku, sebentar lagi aku   akan  kedatangan  tamu,  yaitu orang yang baru meninggal dan  akan  dikuburkan  disini. Menjelang  pagi aku minta bara api untuk memanaskan badan. Tetapi  janganlah  membuka pintu kuburku, masukkan saja melalui lubang ini.

Sebab  kalau  kamu   membuka  pintu  kuburku, kau akan merasa takut karena mataku berwarna merah”.

          Esok harinya,  ketika  matahari mulai nampak diupuk timur, ayahnya mengum- pulkan  bambu  bekas  memasak makanan  dan  bulu  ayam,  lalu diletakkan di dalam sampan  yang  ada  dekat   kuburannya.  Ayahnya   berkata   lagi ;   ”Pergilah anakku, sesampainya  di muara  siramlah  semua  bambu-bambu  dan bulu  ayam  itu. Tetapi jangan  sekali-kali   engkau   tenggelamkan”.   Sesampainya   di   muara,    disiramlah  bambu - bambu   dan   bulu   ayam   tersebut   sesuai  petunjuk   dari  ayahnya.   Maka berubahlah semua menjadi makanan yang lezat, pisang, ayam panggang dan lain-lain.

          Tiba di kampung, dibawanya  makanan  itu ke rumahnya. Ketika kakanya meli- hat  makanan  sebanyak  itu, lalu  bertanya kepada adiknya. ”Dari mana engkau mem-

 peroleh  makanan  yang  lezat-lezat  sebanyak  itu adikku?” ”Aku dapat dari kuburan ayah  kita”,  jawab  adiknya. Mendengar  jawaban adiknya, kakaknya berkata; ”Kalau begitu,  aku  juga  akan  pergi  ke kuburan ayah, supaya dapat kubawa makanan  lebih

banyak  lagi”. Adiknya  menjawab ;  ”Kakak  boleh  pergi,  tapi  mari  dulu kuberikan

nasihat dan  petunjuk  tentang  bagaimana caranya  bila sampai di kuburan ayah kita”.

Rupanya sang  kakak  tidak  menerima  baik  kata-kata  adiknya. ”Apa pantas seorang

adik  memberi  nasihat  dan  petunjuk kepada seorang kakak?” tegasnya. Adiknyapun

mengalah dan diam.

          Hari  berikutnya,  pergilah  si  kakak  ke  kuburan  ayahnya. Sampai di kuburan ayahnya,  terdengarlah  suara  dari  dalam; ”Engkau  juga   datang,  anakku.  Sebentar malam  akan  ada  lagi  tamu  baru  yang  akan  diantar kesini. Tidurlah engkau di atas peti besar yang  ada diatas  kuburanku. Menjelang fajar menyingsing, berikan aku api untuk  memanaskan  badan.  Masukkan  lewat  lubang  kecil  ini, tapi  jangan  engkau buka pintu kuburku, sebab engkau pasti takut melihat mataku yang berwarna merah”

          Namun  dasar  anak  yang  kurang memperhatikan apa yang diberi tahukan oleh ayahnya, lalu  membuka pintu. Karena  terkejut melihat mata ayahnya yang berwarna merah dan menyala, maka larilah sambil berteriak ketakutan.

          Setelah ia sadar, barulah ia  kembali mendekati kuburan ayahnya. Lalu ayahnya yang   kasihan  melihat  anaknya,  dikumpulkannya   bambu-bambu  bekas   memasak makanan  dan  juga  bulu  ayam  yang  diletakkan  di  dalam  sampan  yang  ada dekat kuburannya.

Setelah  itu,  berkatalah  kepada  anaknya ; ”Pergilah  anakku, sesampainya engkau di muara janganlah engkau benamkan bambu-bambu dan bulu ayam itu, tapi siram saja”

          Tetapi  sekali  lagi  si  anak  tidak  menuruti apa yang diperintahkan kepadanya.

Sesampainya  di  muara,  bambu-bambu  dan bulu ayam tadi bukannya disiram sesuai perintah  ayahnya,   bahkan   dibenamkannya.  Makanya   ayamnya   lari,  pisang  dan makanan  yang  lezat-lezat  lainnya,  semuanya  hanyut. Marahlah si kakak menyesali perbuatannya yang tidak menghiraukan nasihat adik dan ayahnya.

          Tiba  di  kampung,   adiknya   bertanya ;  ”Mana  makanan  yang kau bawa dari kuburan ayah  kita?”  Dengan  perasaan  kesal bercampur malu,  ia menjawab ; ”Saya menyesal  tidak  mengikuti  nasihat   adik  dan   perintah   ayah   kita.  Sekarang  saya kembali  dengan   tangan  kosong”.  Dengan  tersenyum  simpul  adiknya  menjawab ; ”Karena itu, sesuatu   nasihat  jangan  dilihat  dari mana yang memberikannya.Dari anak kecilpun patut kita perhatikan. Yang penting nasihat itu berguna bagi kita”.


Cerita Rakyat :

Dibawakan oleh Peserta dari Lembaga Seni Budaya Teluk Bone yang mewakili  Kabupaten Bone PADA SAYEMBARA CERITA RAKYAT SULAWESI SELATAN Tahun 2007 dan meraih Sebagai Juara I Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan

About the Author

Posted by Teluk Bone on 01.39. Filed under . Latebo RSS . Memang Beda

By Teluk Bone on 01.39. Filed under . Memang Beda RSS . Anda Suka

1 komentar for "Monolog Versi Teluk Bone"

Leave a reply

Label

Asmara (9) Berita (13) Budaya (3) Doa (5) Gallery (1) Iklan (1) Jurnal (9) Keluarga (7) Kesehatan (8) Kuliner (3) Misteri (9) Puisi (7) Sejarah (5) Seni (6) Template (4) Tips (2) Unik (4) Wisata (4)

About Me

Foto Saya
Kalau Bukan Kita Siapa Lagi, Kalau Bukan Sekarang kapan Lagi?

    Blog Archive